• Visi : Gerakan Pramuka Menjadi Pilhan Utama Bagi Pembentukan Karakter Kaum Muda
  • Mari kita Galang aksi Pramuka Peduli berupa pelestarian alam dengan menjaga pohon pelindung di lingkungan kita
header image
Pramuka net home arrow Tekpram
Blog - Content Section Layout
Abal-abal merambah Pramuka

Kwartir Nasional telah keluarkan surat edaran bernomor :0067/00-AA tertanggal 7 Pebruari 2012 tentang pemberitahuan. Hal ini terkait dengan adanya permintaan sejumlah uang kepada kwartir cabang maupun kwartir daerah yang pada intinya untuk meminta ( transfer ) uang dan memberikan janji-janji bantuan untuk kwartir. Silahkan simak surat edaran di bawah ini :

 Image

Model tipu2 semacam ini sudah marak di negeri ini, bahkan via SMS maupun email.,dari yang minta tranfer sejumlah uang sampai minta dikirimi pulsa segala. Ada juga yang lagi trend saat ini ,yaitu bikin website abal-abal yang biasanya menawarkan barang dengan harga murah, setelah tranfer sejumlah uang barang nggak nyampe ke pemesan.   Hati-hatilah dengan model tipu-tipu dari gaya yang konvensional sampai yang canggih sekalipun. Konfirmasi dan recek kembali dengan pihak terkait, merupakan salah satu upaya kita menangkal agar tidak jadi korban penipuan.

Write Comment (4 comments)Tulis Pesan (0 Pesan-pesan lanjutan)
Carl XVI Gustaf Mengukuhkan Desa Pramuka

Image Raja Swedia, Carl XVI Gustaf, mengukuhkan Desa Wukirsari sebagai desa pramuka. Desa Wukirsari terletak di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia juga meresmikan pendapa Sanggar Among Budoyo Pramuka di Dusun Nogosari, desa tersebut.

Raja Swedia merupakan ketua pramuka dunia. Sebagai desa pramuka, di belakang pandapa Sanggar Among Budoyo Pramuka, Wukirsari, dibangun lokasi bumi perkemahan untuk menunjang kegiatan kepramukaan. Pandapa itu sendiri direncanakan menjadi pusat kegiatan untuk mendukung usaha rakyat yang mengandung kearifan lokal, misalnya kerajinan batik dan kerajinan kulit atau tatah sungging. Dalam peresmian desa pramuka itu, Raja Swedia Carl XVI Gustaf didampingi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Duta Besar Swedia untuk RI Ewa Ulrika Polano,  Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Paku Alam IX, Pangdam IV Diponegoro Mayjen Mulhim Asyrof, dan Kwartir Nasional Pramuka Azrul Anas.

Rombongan itu disambut oleh Bupati Bantul Sri Suryawidati beserta jajaran Pemkab Bantul di Dusun Nogosari, Desa Wukirsari. Kedatangan Raja Swedia juga disemarakkan oleh alunan tembang panembrama kinanti subakastowo yang merupakan musik ucapan selamat datang. Raja Swedia juga disuguhi sajian tari gambyong.
Raja Carl XVI Gustaf mengaku terkesan dengan Pandu Pramuka di Kabupaten Bantul yang telah membangun pusat pelatihan kepramukaan yang menurutnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Proyek seperti ini yang dinamakan Messenger of Peace juga dilakukan kepanduan di berbagai negara, termasuk Arab Saudi,” kata dia di Bantul, DIY, Rabu 1 Februari 2012.
Gustaf menjelaskan, proyek Massenger of Peace bertujuan membantu masyarakat berkembang menjadi lebih baik. “Indonesia telah melaksanakan program tersebut dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Bantul Sri Suryawidati menyatakan, di Indonesia terdapat 20 juta pandu, dan 35 ribu di antaranya berasal dari Bantul. “Pemerintah Bantul punya komitmen untuk mengembangkan pramuka dari SD hingga SMA,” kata dia.(np)

Sumber : • VIVAnews

Write Comment (2 comments)Tulis Pesan (0 Pesan-pesan lanjutan)
SBY Anugerahkan Tunas Kencana Kepada Raja Swedia

Image Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan kehormatan Raja Swedia Carl XVI Gustaf di Istana Merdeka, Selasa (31/1) sore. Kunjungan ini juga dilakukan Raja Swedia dalam kapasitasnya sebagai Ketua Yayasan Pramuka Dunia untuk memenuhi undangan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Dalam kesempatan ini, Presiden SBY selaku Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka menganugerahkan Lencana Tunas Kencana kepada Carl XVI Gustaf. Penghargaan tersebut diberikan kepada mereka yang berjasa memberikan bimbingan, dukungan, dan bantuan yang amat besar bagi perkembangan Gerakan Pramuka di Indonesia.

Lencana Tunas Kencana merupakan tanda penghargaan tertinggi Gerakan Pramuka. Mereka yang pernah menerimanya, antara lain, Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, dan yang terakhir Presiden SBY pada tahun 2007.

 

Setelah menyambut di tangga Istana Merdeka, Presiden SBY mengajak Raja Carl XVI Gustaf ke Ruang Jepara untuk melakukan pertemuan empat mata, dilanjutkan dengan upacara penyematan Lencana Tunas Kencana di Ruang Kredensial.

Dalam sambutannya, Presiden SBY menjelaskan bahwa Yayasan Kepanduan Sedunia telah memberikan bantuan teknis dan keuangan kepada organisasi kepramukaan di berbagi tempat dengan tujuan untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di negara mereka masing-masing.

"Yang Mulia telah membuktikan kepemimpinan untuk memberdayakan organisasi kepanduan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Saya bangga bahwa Gerakan Pramuka Indonesia juga telah secara aktif berkecimpung di Gerakan Duta Perdamaian Global dari Yayasan Pramuka Dunia," ujar Presiden SBY.

Sementara itu, usai menerima Lencana Tunas Kencana, Raja Carl XVI Gustaf memuji kepemimpinan Presiden SBY saat memimpin rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Menurutnya, kepemimpinan dan penanganan rekonstruksi tersebut patut menjadi acuan seluruh Gerakan Pramuka di dunia.

 

Kunjungan Ke Cibubur Jakarta.

Sebelumnya Raja Swedia Carl XVI Gustaf yang juga Ketua Yayasan Pramuka Dunia antusias mengunjungi Bumi Perkemahan Cibubur. Raja Swedia yang aktif di Organisasi Pramuka Swedia sejak kanak-kanak ini melihat secara langsung aktivitas anak-anak Pramuka Indonesia.

Dalam kunjungannnya beliau menyaksikan kegiatan pramuka pecinta dirgantara, taman lalu lintas yang menawarkan pengenalan lalu lintas pada anak-anak sejak dini, hingga pusat madu pramuka.

Raja Swedia berkunjung ke Indonesia sejak 30 Januari hingga 2 Februari mendatang untuk meninjau aktivitas kepramukaan dan membantu program Messenger of Peace (Duta Perdamaian). Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Kehormatan World Scout Foundation, Raja Swedia memberikan dana USD500.000 untuk program tersebut.

Write Comment (3 comments)Tulis Pesan (0 Pesan-pesan lanjutan)
Gerakan Pramuka Rawan Degradasi

ImagePada peringatan hari Pramuka ke 50 yang lalu , Gerakan Pramuka telah menyelenggarakan Pengibaran bendera Merah putih terbesar dengan moment Dive Pramuka Emas di pantai Pasir Putih Situbondo, demikian pula dilaksanakan kegiatan estafet tunas kelapa dari penjuru tanah air, yang terakhir pengibaran bendera Merah Putih di pulau sebatik yang dilakukan Pramuka Saka Bahari. Masih banyak event lainnya yang pokok utamanya adalah menanamkan kesadaran berbangsa, belanegara dan kecintaan pada tanah air di negara ini.

Kegiatan besar semacam itu bukan sekedar simbol, namun memiliki arti besar bagi gerakan pramuka dalam upaya membangun karakter bangsa ini melalui generasi muda yang tergabung dalam Gerakan Pramuka.

Namun di lain sisi dan lebih ke dalam lagi, menurut pengamatan penulis ternyata masih perlu pembinaan bela negara dan kerakter bagi anggota pramuka yang lebih spesifik dan bersifat tehnis. Dimulai metode pendidikan kepramukaan di gugusdepan, yang pada saat ini tampak adanya pergeseran dan perubahan cara pandang antara memaknai kecintaan pada tanah air dan semangat dalam motivasi kegiatan pramuka. Hal ini terbukti dengan pemakaian setangan leher atau pita leher merah putih yang dibarengi dengan (menyerupai) tanda lainnya diluar tanda resmi yang telah ditentukan oleh Gerakan Pramuka ( Kwarnas, red ). Biasanya orang menyebut tanda ini dengan nama “ slayer “ , yakni sepotong kain yang menyerupai setangan leher dengan aneka warna dan corak baik dengan ukuran yang sama atau lebih kecil, dikenakan melingkar pada leher si pemakai. Penggunaan semacam slayer ini sedemikian subur di kalangan anggota pramuka. Orang-orang yang awam pramuka akan bertanya apakah ada perubahan dengan seragam pramuka saat ini ? atau apakah ada “hasduk baru” ? Lalu apakah penggunaan slayer ini merupakan bagian dari gejala di era keterbukaan, atau kebebasan, ataukah semata-mata hanya untuk cara menumbuhkan semangat bagi anggota pramuka.

Pada saat ini, penggunaan slayer tidak hanya pada forum non formal saja, para peserta didik bahkan menggunakannya pada kegiatan formal juga. Hal ini menjadi sangat memprihatinkan lagi bila dipakai dan ditempatkan di atas setangan/ pita leher menutupi bendera Merah Putih yang sebenarnya dikemas, diformat dan dibentuk menjadi setangan / pita leher.

ImagePola penerapan pendidikan dengan model menggunakan slayer bagi peserta didik yang seperti ini,  akan berpengaruh pada pola image bahwa pengguna dimungkinkan akan lebih bangga dan nyaman menggunakan sejenis slayer dibanding setangan/ pita leher yang semestinya. Perubahan perilaku ini akan terjadi  apalagi jika Merah Putih diletakkan di bawah dan ditutup dengan kain lainnya. Kalau sudah demikian maka nilai Satya dan Darma Pramuka bisa juga menjadi tertutup dan luntur, merah putih di dada bukan lagi kebanggaan. Tentu saja hal tersebut bertentangan dengan tujuan gerakan pramuka. Bahkan pernah ada pula kegiatan kursus pembina malah yang digunakan bukan setangan/ pita leher sebenarnya.

Kenapa bukan satu saja, Merah dan Putih ?

Pengertian penggunaan setangan/ pita Leher.

Setangan / pita leher yang memiliki warna bendera Indonesia, merah dan putih merupakan tanda umun gerakan pramuka yang dikenakan pada pakaian seragam Pramuka di bawah leher baju (kraag), dilipat sedemikian rupa (putra) sehingga warna merah dan putih masih tampak dengan jelas sedangkan putri dibuat simpul mati, dengan bagian yang merah di sebelah kanan, dan bagian putih di sebelah kiri.

Sejarah menunjukkan bahwa dengan terbitnya Keppres No. 238 tahun 1961, yakni dengan tujuan pokok menyatukan seluruh pandu di Indonesia yang beraneka latar belakang, menjadi Gerakan Pramuka dengan satu tujuan dan selanjutnya oleh para pendahulu telah menindaklanjutinya dengan peraturan pemakaian salah satu tanda umum serupa bendera Merah Putih yang dipergunakan sebagai setangan / pita leher menjadi bagian tanda pemersatu, yang akan tampak pada setiap dada anggota pramuka.

Perlunya Pemahaman Setangan/ Pita Leher.

Seperti yang ditulis di atas bahwa setangan/ pita leher merupakan Bendera Merah putih yang dikemas sedemikian rupa dan menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anggota pramuka. Kita juga akan mengalami kegundahan dan perasaan yang sama, manakala pada latihan pramuka, banyak peserta didik tidak  menggunakan setangan/ pita leher. Semestinya tata cara dan etika pemakaian setangan/ pita leher seharusnya diterapkan pada setiap peserta didik sejak awal, agar Merah Putih ( bendera ) yang melingkar dileher itu selalu dijaga dan dihargai sebagaimana menghargai dirinya sendiri saat menggunakannya.

Seharusnya tidak ada bentuk lain yang menyerupai setangan/ pita leher selain merah dan putih yang merupakan janji yang selalu mendampingi di setiap kegiatan pramuka. Kita juga tidak bisa serta merta beralasan demi kreatifitas, atau menjadikan sebagai sekedar tanda peserta kegiatan, apalagi hal tersebut tidak tercantum dalam petunjuk penyelenggaraan dalam tanda umum gerakan pramuka.

Apakah tidak sebaiknya kita dapat mencontoh para pimpinan Gerakan Pramuka, seperti Kak Dede Yusuf (Kwarda Jabar) yang selalu menggunakan merah putih di dadanya meski tidak berseragam pramuka, demikian pula Kak Budi Prayitno (Kwarda Jateng) yang tetap memegang aturan normatif dalam pemakaian seragam pramuka. Kedua Pemimpin ini bisa dijadikan tauladan dalam menjaga semangat bela negara dan beretika saat sang merah putih menyertainya.

Akibat dan solusi.

Kalo sudah menjadi kebiasaan,  pasti ada yang pro maupun kotra, tentu kita tidak ingin terjadinya pengaruh yang mengakibatkan perubahan perilaku yang akhirnya dapat keluar dari maksud dan tujuan gerakan pramuka itu sendiri.  Adanya aneka warna dan bentuk slayer yang dibuat, bukan menjadi solusi pemersatu, tapi malah sebaliknya mereka bisa saja, saling berlomba untuk “jor-joran”,  lenyapnya persaudaraan lalu yang muncul adalah persaingan, semangat merah putih pun hilang.  Pemakaian slayer yang asal-asalan mengakibatkan penggunaan seragam pramuka yang makin tidak tertib.  Peserta didik makin lebih senang menggunakan slayer daripada setangan/pita leher.

Selanjutnya beberapa hal yang merupakan bagian dari solusi :

- Diberikannya kesempatan pengunaan sejenis slayer, namun dengan aturan yang konkrit, jelas dan ketat.

- Sebaliknya adanya penegasan terhadap larangan penggunaan tanda-tanda selain yang tercantum dalam aturan normatif di Gerakan Pramuka.

- Sosialisasi penggunaan seragam yang baik dan benar.

- Penanaman karakter bagi pramuka terutama di bidang bela negara lebih ditingkatkan.

- Tumbuhkan  nilai-nilai semangat perjuangan para pahlawan, mempertahankan bendera merah putih dan agar tetap berkibar di bumi pertiwi ini.

- Perlunya pengetahuan pemahaman tentang adanya petunjuk penyelenggaraan untuk dipatuhi dan dilaksanakan.

Tentu saja masih banyak solusi lainnya yang lebih baik. Sedangkan yang memiliki kewenangan dan kebijakkan untuk melakukan itu hanyalah pihak Kwartir.

Dalam meningkatkan animo dan semangat berpramuka masih ada upaya lain yang dapat dilakukan dengan cara yang lebih baik tapi benar. Namun yang harus kita ingat bahwa ibarat membuat sebuah bangunan tidak terus saja meningkat ke atas saja, tetapi juga perlu dilihat pondasi di bawahnya apakah ada korosi atau degradasi yang sewaktu-waktu bikin bangunan itu mudah roboh.

Wallahualam. Salam Pramuka

Oleh : Gunawan Sr.

Write Comment (4 comments)
Gerakan pramuka menemukan Karakter bangsa yang hilang

ImagePengantar

Dalam facebook saya membaca sebuah tulisan yang berjudul “Karakter Bangsa Yang Hilang” ditulis oleh Joko Mursitho Kepala Pusdiklatnas Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Siapapun yang membca tulisan itu pasti cemas, betapa parahnya kondisi karakter bangsa kita sekarang ini, sungguh ironis dan tragis. Bangsaku kusayang, bangsaku malang, demikian sebuah ungkapan. Sesungguhnya bangsa kita sudah terkenal sejak zaman dahulu kala yaitu bangsa yang besar, bangsa yang berbudaya, bangsa yang lemah lembut, sopan santun, agamis, toleransi, pemaaf, cinta damai, dan perilaku lainnya yang terpuji. Tetapi apa yang terjadi saat ini, karakter bangsa telah hilang, bangsa kita sedang sakit.

Dalam tulisan itu, Kak Joko Mursitho menggambarkan bahwa bangsa Indonesia saat ini telah menyimpang dari karakter asli bangsa Indonesia. Hampir setiap hari kita disuguhkan pemandangan peristiwa yang mengerikan, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, konflik antar kelompok, perkelahian antar suku, tawuran pelajar/mahasiswa, penyalahgunaan obat terlarang “narkotika”, dan lain-lain. Dahulu bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang ramah tamah, sopan santun, tapi sekarang berubah menjadi bangsa yang kasar, beringas, pemarah, anarkhi. Semangat musyawarah, kekeluargaan, gotongroyong, kesetiakawanan, kebersamaan sudah menipis. Budaya tertib, patuh, disiplin, rasa malu juga sudah luntur.

Permasalahan Bangsa

Sesungguhnya ada apa dengan bangsa kita, dan mengapa terjadi seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan itu maka saya akan mengutip (inti sarinya saja) perkembangan Lingkungan Strategik yang dimuat dalam Rencana Strategik Gerakan Pramuka Tahun 1999-2004. Perkembangan Lingkungan Strategik pada tingkat global dan tingkat nasional dapat mempengaruhi kondisi bangsa Indonesia (karakter bangsa) ada 5 (lima) faktor, yaitu:

1.    Revolusi Komunikasi dan Teknologi

       Telah terjadi percepatan perkembangan teknologi yang sangat tinggi dan sangat mempengaruhi kehidupan dunia. Era komputer dan komunikasi yang didominasi oleh “budaya interaktif” dengan adanya internet, komputer jinjing, dan telepon genggam menciptakan kehidupan “lingkungan hidup yang baru”. Kemudahan akses informasi membawa terjadinya penetrasi global dari model-model gaya hidup yang sering tidak cocok dengan realita lokal. Seperti misalnya, masuknya konsumsirisme yang tidak sesuai dengan kebutuhan pembangunan sehingga menimbulkan aspirasi-aspirasi yang tidak terpenuhi, yang berlanjut dengan frustasi yang makin meningkat, terutama pada generasi muda. Akibatnya adalah akses-akses seperti perkelahian masal, kenaikan kriminalitas dan penyalahgunaan narkoba.

 

2.    Globalisasi

       Proses globalisasi dalam teknologi, pasar, perdagangan, perjalanan dan imigrasi telah berkembang dengan sangat cepat. Dampak yang diakibatkan oleh kekuatan dan kebijakan global sangat mempengaruhi keadaan dan pengambilan keputusan pada tingkat nasional dan lokal.Aspek yang menonjol disini adalah kesiapan kita untuk menghadapi keterbukaan dan kemampuan bersaing. Pers, radio, dan televisis hampir setiap hari menyiarkan gambar-gambar tentang kekerasan yang melanda masyarakat diberbagai tempat di dunia,yang terpecah belah dalam pertikaian etnik, masyarakat yang terjerumus kedalam konflik sipil dan sebagainya.

 

3.    Krisis Ekonomi

       Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan gelombang “reformasi total”, pergantian kepemimpinan negara, disusul dengan pergolakan politik yang diwarnai oleh unjuk rasa dengan berbagai tuntutan, menciptakan kondisi yang sangat rawan. Keadaan seperti ini memberi peluang kepada pihak-pihak tertentu untuk mengumbar dan melampiaskan segala kegiatan tercela seperti provokasi-provokasi, tuntutan-tuntutan, hujatan-hujatan, isu-isu SARA dan upaya-upaya yang melecehkan hukum dan wibawa pemerintah yang menjurus ke anarkhi dan mengamcam keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Tindakan kekerasan dan kriminalitas seolah-olah mendapat keleluasaan sehingga waktu merajalela dan seiring dengan itu tindakan-tindakan main hakim sendiri sering terjadi. Nilai-nilai budaya seperti tersingkirkan dan tidak mampu untuk menjadi kendala terhadap akses-akses dalam masyarakat itu.

 

4.    Ancaman Narkoba dan HIV/AIDS

       Pada saat ini sudah sekitar 1,3 juta orang di Indonesia diperkirakan mengkonsumsi narkotika dan obat terlarang. Karena omset perdagangannya secara nasional mencapai ratusan miliyar rupiah perhari. Sebagai bursa transaksi, orang tidak hanya merujuk ketempat hiburan seperti diskotik, karaoke dan bandara tetapi kampus dan sekolah juga disebut-sebut sebagai pintu masuknya budaya narkotika dan obat terlarang. Demikian juga dengan penyebaran HIV/AIDS merupakan ancaman yang harus diwaspadai. Terlebih-lebih dengan meningkatnya pergaulan bebas dan perubahan gaya hidup.

 

5.    Defisit Pendidikan

       Pendidikan formal (sekolah) mengalami defisit, demikian juga pendidikan informal (keluarga).Orang berkata bahwa sekarang “sekolah-sekolah makin banyak mengajar, tapi kurang mendidik”.Yang dimaksud dengan “mengajar” disini adalah pengalihan pengetahuan, sedangkan “mendidik” dimaksudkan membangun kepribadian. Gejala inilah yang dimaksud dengan “defisit pendidikan” yang terdapat dalam pendidkan formal di sekolah. Karena berbagai sebab, sekarang ibu-ibu ikut bekerja di luar rumah, sehingga anak mendapat kebebasan pada usia yang makin muda. Tetapi kebebasan ini tidak dibarengi pembekalan bagaimana mereka harus membawa diri dalam kebebasan itu, sehingga anak tersebut dapat terjerumus dalam penggunaan obat terlarang atau pergaulan yang kurang baik. Terjadilah “defisit pendidikan informal” (pendidikan di lingkungan keluarga). Jadi, pendidikan formal (sekolah) dan pendidikan informal (keluarga) ternyata kurang dapat memberikan sahamnya baik dalam hal “pembangunan watak, kepribadian, dan karakter” dalam hal membekali kemampuan otonomi untuk mandiri dalam membekali nilai-nilai hidup. Oleh sebab itu Gerakan Pramuka sebagai gerakan pendidikan non formal tampil untuk membantu dan melengkapi kekurangan pendidiakan formal dan informal. Sehingga kesenjangan pendidikan karakter bangsa dapat diatasi melalui pendidikan formal dan pendidikan informal serta dimantabkan melalui pendidikan non formal (pendidikan kepramukaan).

 

Peran Gerakan Pramuka

Berdasarkan Undang-undang nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, maka peranan Gerakan Pramuka dalam pendidikan karakter bangsa menjadi besar. Disebutkan di dalam konsideran, “…bahwa Gerakan Pramuka selaku penyelenggara pendidikan kepramukaan mempunyai peran besar dalam pembentukan kepribadian generasi muda sehingga memiliki pengendalian diri dan kecakapan hidup untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global”. Untuk melaksanakan peran besar itu, maka Gerakan Pramuka memiliki mesin penggerak dan bagi anggotanya memegang teguh kode kehormatan Pramuka berupa janji dan komitmen serta ketentuan moral Pramuka.

Janji itu dirumuskan dalam “satya” dan ketentuan moral itu dirumuskan dalam “darma” yang dapat diambil intinya antara lain  memuat butir-butir kegiatan pendidikan kepramukaan, yaitu:

1.    Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.    Berakhlak mulia.

3.    Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dan mengamalkan Pancasila.

4.    Berjiwa patriotik.

5.    Taat hukum.

6.    Menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7.    Kecintaan kepada alam dan sesama manusia.

8.    Melestarikan lingkungan hidup.

9.    Kedisiplinan, keberanian dan kesetiaan.

10.  Tolong menolong.

11.  Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

12.  Jernih dalam berfikir, berkata dan berbuat.

13.  Hemat, cermat dan bersahaja.

14.  Rajin dan terampil.

15.  Sopan dan kesatria.

16.  Memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa.

17.  Tabah dalam menghadapi kesulitan/musibah.

 

Butir-butir kegiatan pendidikan kepramukaan itu dimaksudkan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, keterampilan dan ketahanan diri yang dilaksanakan melalui metode belajar interaktif dan progresif. Penggunaan metode belajar interaktif dan progresif itu dapat diterapkan sesuai dengan golongan anggota Pramuka yaitu Pramuka Siaga (umur 7-10 tahun), Pramuka Penggalang (umur 11-15 tahun), Pramuka Penegak (umur 16-20 tahun) dan Pramuka Pandega (21-25 tahun). Bagi Pramuka Siaga melalui proses mengerti dan memahami, sedangkan untuk Pramuka Penggalang menggunakan proses mengamati dan menghayati. Nah, untuk Pramuka Penegak dan Pandega menggunakan proses melakukan, mengamalkan, mempertahankan dan melestarikan serta membudayakan. Kehadiran anggota dewasa (pembina, pelatih) memberikan dorongan dan dukungan kepada anggota muda tersebut di atas dengan prinsip sistem among, yaitu ing ngarso sung tulodo untuk Pramuka Siaga, ing mudyo mangun karso untuk Pramuka Penggalang  dan tut wuri handayani untuk Pramuka Penegak dan Pandega.

Pendapat Tentang Karakter Bangsa

Ada beberapa pendapat untuk mencari karakter bangsa yang hilang dan menemukannya kembali. Pendapat pertama menyatakan bahwa pendidikan karakter bangsa diberikan secara khusus dalam kurikulum pendidikan formal yaitu “pelajaran budi pekerti”. Pendapat yang kedua, pendidikan karakter bangsa di masukkan dalam mata pelajaran PPKn sedangkan pendapat ketiga menyatakan bahwa pendidikan karakter bangasa dimuat/disisipkan ke dalam semua mata pelajaran dalam pendidikan formal. Baik pendapat pertama, kedua dan ketiga, kesemuanya belum menyentuh secara komprehensif, karena mereka masih berkutat pada pendidikan formal. Bagaimana pendidikan informal dan non formal?

Gerakan Pramuka sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan non formal diharapkan mampu menjadi suatu kekuatan perubahan sosial nasional dan peranan Garakan Pramuka ini semakin nyata dengan diakuinya Gerakan Pramuka dalam undang-undang tentang Gerakan Pramuka. Peran besar Gerakan Pramuka dalam pembentukan kepribadian generasi muda dalam bidang karakter bangsa hendaknya dapat diwujudkan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Ditinjau dari segi sosial budaya dari pembangunan bangsa maka pendidikan kepramukaan yang sebenarnya paling cocok untuk mempersiapkan anak muda/kaum muda untuk menanggulangi merosotnya karakter bangsa. Atau istilah kak Joko Mursitho “Karakter Bangsa yang Hilang” untuk dicari dan ditemukan oleh Gerakan Pramuka.

Bagaimana caranya Gerakan Pramuka untuk menemukan karakter bangsa yang hilang? Caranya, Gerakan Pramuka melakukan kegiatan yang menarik dan menyenangkan, dilaksanakan secara praktik yang praktis, kegiatan belajar sambil melakukan. Kegiatan itu bersumber dari satya dan darma Pramuka. Satya sebagai janji, darma sebagai ketentuan moral. Untuk Pramuka Siaga dirumuskan dalam “dwi satya dan dwi darma”, sedangkan untuk Pramuka Penggalang/Penegak/Pandega dirumuskan dalam “tri satya dan dasa darma

Segala upaya dan usaha Gerakan Pramuka diarahkan untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka. Tujuan itu diarahkan pembinaan watak, mental, emosional, jasmani, dan bakat, serta meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan dan kecakapan melalui berbagai kegiatan kepramukaan yaitu: kegiatan pertemuan, kegiatan perkemahan, kegiatan bakti masyarakat, kegiatan peduli masyarakat, kegiatan kemitraan dan masih banyak lagi kegiatan berskala lokal, nasional maupun internasional.

Harapan

Marilah kita satukan tekad dan semangat untuk bersama-sama menggempur musuh-musuh yang akan menghancurkan karakter bangsa Indonesia. Kita cari karakter bangsa yang hilang, dengan sistem “gropyokan” melalui jalur pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal (pendidikan kepramukaan). Insya Allah, karakter bangsa yang hilang bakal ketemu lagi dan pulih kembali sebagaimana nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Selamat buat Gerakan Pramuka yang telah berusia 50 tahun merupakan tahun emas (1961—2011). Semoga bermanfaat.

Oleh: Munatsir Amin *)

Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Lampung masa bakti 2011—2016.

 

Referensi:

1.    Undang-undang No. 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka

2.    Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.

3.    Rencana Strategis Gerakan Pramuka tahun 1999—2004 oleh Kwartir Nasional.

4.    Karakter Bangsa Yang Hilang oleh Joko Mursitho Ka. Pusdiklatnas Kwartir Nasional.

 

Write Comment (3 comments)
<< Start < Previous 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Results 231 - 240 of 639
LAYANAN CHATTING