• Visi : Gerakan Pramuka Menjadi Pilhan Utama Bagi Pembentukan Karakter Kaum Muda
  • Mari kita Galang aksi Pramuka Peduli berupa pelestarian alam dengan menjaga pohon pelindung di lingkungan kita
header image
Pramuka net home arrow Tips & Trik
Aneka Tips dan trik ala Pramuka
Bocah Atheis Ditolak Masuk Pramuka PDF Print E-mail

ImageSeorang bocah yang mengaku atheis di Inggris ditolak untuk masuk gerakan pramuka di negara tersebut. Pembina berdalih, seorang pramuka di Inggris harus beragama, apapun agamanya.

Diberitakan Daily Mail, bocah bernama Geroge Pratt asal Radstock, Somerset, ini telah bergabung di kepramukaan selama 10 bulan sebelum pengucapan sumpah janji dilakukan. Pratt yang tidak percaya adanya Tuhan menolak mengucapkan sumpah yang mengandung kalimat, "menjalankan kewajiban pada Tuhan dan Ratu Inggris."

Akibat penolakan ini, Pratt ditolak untuk menjadi salah satu anggota pramuka. Salah satu pembina di Asosiasi Pramuka Inggris mengatakan bahwa agama adalah salah satu prinsip penting dari pergerakan kepanduan tersebut sejak 105 tahun lalu.

Dia mengatakan, sumpah menjalankan kewajiban pada Tuhan itu bisa diganti sesuai dengan agamanya. Misalnya seorang Muslim, maka sumpahnya diganti menjadi "menjalankan kewajiban pada Allah”.

"Seorang anak tidak akan ditolak keanggotaannya berdasarkan keyakinan orangtuanya, tapi mereka harus tetap mengucapkan sumpah janji tersebut," kata pembina yang tidak disebutkan namanya ini.

Kalimat sumpah janji pramuka Inggris lengkap berbunyi seperti ini: "Demi kehormatan saya, saya berjanji akan melakukan yang terbaik, melaksanakan kewajiban pada Tuhan dan Ratu, membantu orang lain dan menegakkan Hukum Pramuka."

Ayah Pratt, Nick, 45, mengaku marah atas penolakan tersebut dengan mengatakan bahwa pramuka Inggris tidak toleran. "George adalah anak pintar yang mampu mengambil keputusannya sendiri, dia tidak percaya Tuhan dan tidak percaya dunia ini dibuat dalam tujuh hari. Ini adalah keputusannya," kata Nick.

Pratt bersikeras tidak akan mengucapkan janji tersebut karena dia meyakini apa dilakukannya. Namun, dia mengaku sedih tidak bisa bergabung dengan pramuka seperti teman-temannya yang lain.

"Saya telah bicara dengan pembina, tapi dia tidak mengubah keputusannya, ini tidak adil. Teman-teman saya akan melakukan jelajah gua nanti, dan saya belum pernah melakukannya. Saya senang seluruh aktivitas pramuka, tapi saya tidak boleh. Tapi saya tidak akan mengubah keputusan saya," ujarnya. (Sumber : VIVAnews)

Write Comment (1 comments)Tulis Pesan (0 Pesan-pesan lanjutan)
Wapres : Papua Tak Terpisahkan Dari NKRI PDF Print E-mail

ImageJayapura. Dari wilayah paling timur Indonesia, Wakil Presiden Boediono mengajak seluruh komponen gerakan pramuka untuk mempertebal semangat persatuan dan persaudaraan untuk bersama membangun dan memajukan bangsa ini. “Kita memberi perhatian khusus kepada Tanah Papua untuk mengejar berbagai ketertinggalannya. Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Republik kita, dari bumi Indonesia, warisan para leluhur kita, yang sama-sama kita jaga dan kita cintai,” ucap Wakil Presiden Boediono membuka Raimuna Nasional ke-10 Gerakan Pramuka Tahun 2012 di Bumi Perkemahan Cendrawasih Phokela Waena Jayapura, Provinsi Papua, Rabu 10 Oktober 2012.

Wapres menggarisbawahi bahwa tema Raimuna Nasional “Pramuka Indonesia Bersama Masyarakat Membangun Tanah Papua” menggugah kita semua untuk mewujudkan pembangunan bagi semua, seluruh bangsa Indonesia, tidak terkecuali.

Mengikuti Raimuna Tingkat Nasional, kata Wapres, adalah impian setiap Pramuka Penegak dan Pandega di seluruh tanah air.  “Kalian yang berdiri di sini sangatlah beruntung karena berhasil lolos seleksi dari sekian ribu Pramuka Penegak dan Pandega yang berminat mengikut perhelatan nasional ini,” ucap Wapres. Berarti, para peserta Raimuna adalah mereka yang dinilai unggul dalam berbagai bidang baik dalam ilmu pengetahuan, ketrampilan, maupun dari segi  fisik dan mental. “Merupakan suatu kebanggaan, karena kalian dipercaya oleh kakak-kakak pembina kalian untuk hadir di sini mengikuti Raimuna Nasional,” ucap Wapres.

Wapres berharap para peserta Raimuna tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang didapat. Bahkan, setelah kembali ke daerahnya masing-masing, para peserta dapat berbagi pengalaman selama mengikuti Raimuna untuk mewarnai Gugus Depan mereka masing-masing. “Sampaikanlah semua pelajaran dari sini dalam pergaulan kepada seluruh teman-teman kalian,” pesan Wapres.

Tetapi yang lebih penting lagi, dikatakan Wapres, para peserta Raimuna harus mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Kalian semua, para Pramuka Indonesia, adalah kader-kader pemimpin bangsa. Akan tiba saatnya nanti, kalian akan menerima tongkat estafet untuk menjalankan amanah  memimpin bangsa ini,” ucap Wapres.

Wapres yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka berpesan agar para peserta dapat menjadi generasi muda yang memiliki jiwa seimbang, cerdas, dan menguasai berbagai keterampilan dan ilmu pengetahuan. “Namun Anda juga harus memiliki satu modal penting lagi yaitu watak mulia. Kedua hal itu, keterampilan dan karakter  adalah modal utama bagi Anda masing-masing untuk sukses dalam hidup Anda nanti, dan sekaligus modal utama bagi bangsa ini untuk maju,” pesan Wapres.

Revitalisasi Gerakan Pramuka

Dalam kesempatan tersebut, Wapres mengingatkan kembali, Revitalisasi Gerakan Pramuka yang telah dikumandangkan sejak peringatan Hari Pramuka Ke-45 tahun 2006 yang lalu. “Gerakan ini merupakan suatu ikhtiar bersama untuk menggiatkan kembali Gerakan Pramuka di tengah-tengah masyarakat Indonesia,” ucap Wapres.

Revitalisasi Gerakan Pramuka dimaksudkan untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap Gerakan Pramuka. Kegiatan Pramuka harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan putra-putri Indonesia, mulai dari usia dini. Kegiatan Pramuka adalah satu jalur utama untuk  membentuk karakter mulia putra-putri Indonesia. “Kegiatan kepramukaan tidak boleh hanya sekedar kegiatan sampingan atau formalitas yang kosong isinya. Ia harus menjadi bagian dari kurikulum utama dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh di sekolah-sekolah di tanah air,”ucap Wapres. (selengkapnya baca pidato Wapres)

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar melaporkan Raimuna merupakan pertemuan nasional Pramuka 15-25 tahun tingkat Penegak dan Pandega. Raimuna berasal dari bahasa Papua, “Rai” berarti sekelompok orang yang berkumpul untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan bersama, sedangkan “Muna” adalah daya kekuatan jiwa seseorang yang berpengaruh baik dalam mencapai kesuksesan. “Raimuna adalah kumpulan calon pemimpin bangsa dan negara,” ujar Azwar.

Azwar menyampaikan bahwa Raimuna Nasional ke-10 dilaksanakan pada 8-15 Oktober 2012 dan diikuti oleh 3.689 orang. Peserta Raimuna akan mengikuti berbagai macam kegiatan yang dibagi menjadi 13 kelompok, antara lain kegiatan keterampilan, bakti kepada masyarakat, kegiatan di alam terbuka dan seni budaya.

Pj. Gubernur Papua Syamsul Arief Rivai menyampaikan pelaksana Raimuna Nasional ke-10 merupakan kesempatan bagi peserta Raimuna yang berasal dari luar Papua untuk dapat memahami provinsi ini secara baik dan benar. “Bahwa di Papua ada kedamaian, persaudaran, harapan, rasa kekeluargaan dan ada keinginan untuk maju seperti keinginan maju provinsi lainnya,” ujar Rivai.

Rivai melaporkan bahwa kondisi di Papua saat ini dalam keadaan aman, tertib dan terkendali. “Kami berharap pemilihan kepala daerah di Papua dapat berjalan sesuai jadwal, dan pemungutan suara dilaksanakan minggu terakhir Januari 2013,” ujar Rivai.

Usai membuka Raimuna Nasional ke-10 Gerakan Pramuka Tahun 2012, Wapres menyematkan tanda peserta kepada dua orang perwakilan peserta Raimuna dari Provinsi Papua dan Provinsi Aceh. Tampak hadir mendampingi Wapres, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.

(sumber : wapresri.go.id)

Write Comment (0 comments)Tulis Pesan (0 Pesan-pesan lanjutan)
Lambang Pendidikan Pramuka PDF Print E-mail
 
 
 Image 

Pernahkah anda tahu bahwa lembaga pendidikan dan latihan Gerakan Pramuka ( Pusdiklat ) memiliki lambang tersendiri, seperti tampak pada gambar di atas. Terdiri dari bagian/ bentuk seperti mata rantai, Juluran lidah api, bintang, jantung yang berbentuk perisai dengan warna merah putih, garis tebal katulistiwa dan lain – lain yang masing masing memiliki arti/ makna. Lambang Pendidikan Gerakan Pramuka tercantum dalam Lampiran Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramukan nomor 073/KN/1977 tentang Lembaga Pendidikan orang  Dewasa dalam Gerakan Pramuka.

Pada Lambang Pendidikan tersebut ada beberapa bagian yang memiliki makna dan arti kiasan misalnya jantung, berwarna merah putih dengan bintang bersudut lima berwarna emas didalamnya mempunyai arti :

-    Pendidikan dan pengabdian adalah ibarat darah dalam tubuh Gerakan Pramuka .

Pelatih pembina pramuka  adalah bagaikan jantung yang mengalirkan darah itu keseluruh tubuh gerakan pramuka. Pengaturan darah itu melewati saluran pembuluh darah keluar dan pembuluh darah masuk , yaitu pembina pramuka dan pembantu pembina pramuka

Bagian tengah jantung yang merupakan pusat daya gerak jantung dilukiskan dalam bingtang bersudut lima yang melambangkan sila Ketuhanan Yang  Maha Esa  , dalam pancasila.

Ini memberi arti , bahwa segenap gerak kegiatan pendidikan dan pengabdian bersumber kepada Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pimpinan  spiritual  bagi setiap orang dewasa dalam Gerakan Pramuka .

-    Warna merah putih pada jantung sel darah merah dan sel darah putih.

Pendidikan dan pengabdian dalam gerakan pramuka diibaratkan darah berwarna merah putih sebagai lambang kebangsaan indonesia yang menjiwai patriotisme indonesia.

 

Makna garis yang melingkari gambar jantung, memiliki arti :

-   2 garis tebal melambangkan khatulistiwa dikepulauan indonesia, yakni keluasan wilayah kerja. Pelatih ( dari sabang sampai marauke), dan keharusan stabilnya dan meratanya usaha-usaha pembinaan dan pengabdian kepada para pramuka.

-  6 garis tipis dari 6 jurusan melambangkan bahwa dari 6 jurusanlah (atas-bawah-kiri-kanan-muka-belakang) Pelatih dan tenaga staf menerima masuknya bahan –bahan pertimbangan untuk mengolah dan mempersiapkan zat-zat pendidikan dan pengabdian yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tubuh gerakan pramuka.

-    8 garis mengkiaskan penjuru-penjuru pokok pedoman yang menunjukan haluan tertentu ( 8 penjuru mata angin) dari pembina pramuka dan pembantu pembina pramuka dalam mengabdikan diri, membina, berbakti dan melatih pramuka.

 

Selanjutnya pengertian makna pada rantai :

- Mata rantai bulat melambangkan pramuka putra dan mata rantai segi empat melambangkan pramuka putri, berkaitan erat menjadi satu rantai kesatuan dan persatuan yang bulat dan kokoh, ialah gerakan Pramuka, itu sebuah tubuh yang pertumbuhannya butuh diresapi oleh zat-zat pendidikan, pembinaan dan pengabdian yang harus dipompakan melalui para pembina pramuka dan pembantu pembina pramuka ke dalamnya.

-    Mata rantai yang berjumlah 2 x 12 = 24 mengingatkan kepada 24 jam sehari semalam, dan 7 mata rantai yang berisi huruf mengingatkan kepada 7 hari seminggu, sedangkan 5 mata rantai berisi tunas kelapa dengan 7 mata rantai yang berisi huruf adalah sama dengan 12, yang mengingatkan kepada 12 bulan dalam setahun. Angka-angka itu dalam satu bulatan melambangkan roda kehidupan dan usaha gerakan pramuka yang terus menerus, turun menurun sebagai akibat dari kesatuan, kesamaan kedudukan dan kewajiban setiap anggota gerakan pramuka, kesatuan, kesamaan dan kerjasama yang erat dari semua dari bagian-bagiannya.

Makna pada gambar lidah api menjilat-menjilat dengan 5 juluran api berisi kiri dan 5 juluran api berisi kanan, dan berpusat pada 3 lidah api yang berada di tengah-tengah, diantara kedua juluran lidah api. Didalam juluran lidah api sebagai bingkai terdapat motto yang berbunyi “ IKHLAS BHAKTI BINA BANGSA BER BUDI BAWA LAKSANA” , mempunyai arti :

10 juluran lidah api yang berkobar-kobar melambangkan dasa darma dan 3 lidah api melambangkan tri satya, yaitu kode kehormatan bagi para pramuka.

-   Semboyan orang dewasa dalam pendidikan di lingkungan gerakan pramuka adalah : “ IKHLAS BHAKTI BINA BANGSA BER BUDI BAWA LAKSANA” yang kepanjangannnya ialah :Iklhas berarti yakni dengan murni dan suci hati memberi, menyumbang, menderma yang baik dalam upaya ikut serta membina , membangun bangsa dengan jalan meluberkan, membeberkan, menumpahkan, melimpahkan budi serta kewajiban dalam melaksanakan budi serta kewajiban dalam melaksanakan daya upaya tersebut.

-   Jilatan lidah api dengan semboyan tersebut di atas itu melambangkan suatu ikrar bagi orang dewasa di dalam gerakan pramuka yaitu andalan, pembantu andalan, pembina pramuka , pembantu pembina pramuka dan tenaga staf kwartir untuk membawa para pramuka ke masa depan yang lebih gemilang.

Pembina Pramuka Harus Bersertifikat PDF Print E-mail

ImageBandung - Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat, Wakil Gubernur Dede Yusuf, mengatakan saat ini tengah digodok pemberlakukan akreditasi bagi pembina Pramuka

"(Saat) ini sedang digodok Kwarnas (Kwartir Nasional)," kata Dede Yusuf, selepas perayaan Peringatan Gerakan Pramuka Jawa Barat di Lapangan Gasibu, Bandung, Selasa, 25 September 2012. Menurut dia, akreditasi itu untuk standardisasi pembina di sekolah-sekolah. "Pembina yang mendapatkan pelatihan akreditasi sekitar 4 ribuan lebih, nanti oleh sekolah akan mendapat pengakuan," kata Dede.
Dede mengatakan akreditasi itu merupakan perintah Undang-Undang agar Gerakan Pramuka yang selama ini dianggap hanya sebagai kegiatan ekstrakurikuler bisa menjadi bagian dari sistem pendidikan. Saat ini, di Jawa Barat, tercatat 1.800 pelatih Pramuka yang bersertifikat.
Menurut dia, jumlah anggota Pramuka di Jawa Barat pertumbuhannya menembus 20 persen, dari 3,2 juta anggota kini naik menjadi 3,9 juta. Jumlah pelatih Pramuka melonjak dalam kurun waktu yang sama, dari 600 orang menjadi 1.800 orang.
Dede mengatakan gerakan Pramuka merupakan pendidikan karakter. "Pramuka tidak sekadar baris-berbaris atau kamping," kata dia. Menurutnya, kehadiran Pramuka harus kelihatan, terasa, dan ada wujudnya. "Misalnya saat ada bencana alam, bencana sosial, Pramuka harus terlibat membantu."

Menurut dia, aktivitas dalam kegiatan Pramuka itu bisa menghindarkan generasi muda dari pengaruh negatif. "Yang paling penting, gerakan Pramuka itu mampu meredam tawuran remaja, narkoba, geng motor, dan sebagainya," kata dia.

 

Sumber : tempo.co.id

Write Comment (6 comments)Tulis Pesan (0 Pesan-pesan lanjutan)
Ambiguitas Pendidikan Karakter PDF Print E-mail

ImageKetika saat ini sedang digalakkan materi pendidikan karakter di sekolah-sekolah secara nasional, pertanyaan yang kemudian selalu mengusik adalah, "Pendidikan karakter seperti apa yang harus diberikan kepada peserta didik?"

Pertanyaan itu selalu saya dapatkan dari tiap pelatihan untuk guru di berbagai daerah di berbagai provinsi. Mereka selalu bingung, dan mengatakan, "Bagaimana cara memberikan pendidikan karakter kepada peserta didik, apa materinya?"

Tentu saja, kalau dibaca sepintas, pertanyaan itu terasa lucu, mengingat guru mau mengajar tetapi dibuat bingung oleh materi. Namun kalau kita mau jujur dan berpikir jernih, justru pertanyaan itu patut ditangkap sebagai ungkapan keprihatinan mereka, sebagai ekspresi kebingungan yang mendalam.

Kemelemahan Karakter

Pendidikan karakter bukan sekadar rangkaian kalimat indah yang disusun dalam buku atau kurikulum melainkan harus merupakan formulasi yang dapat membangkitkan kesadaran akan pentingnya berjiwa luhur dan berbudi pekerti luhur. Tidak sekadar teori yang mudah disampaikan tetapi sulit dilaksanakan.

Ia harus merupakan "obat ampuh" untuk menyembuhkan kemerosotan moral, kemerosotan nilai-nilai dan budi pekerti luhur, terlebih pendidikan karakter juga harus dapat menyembuhkan "kerusakan perilaku" yang makin jauh dari nilai-nilai acuannya.

Kenyataan yang dihadapi guru sangatlah rumit. Banyak sisi yang saling bertentangan dan sangat ambigu. Di satu sisi guru merupakan agen perubahan yang seolah-olah "harus bertanggung jawab" terhadap pendidikan generasi muda, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Di sisi lain, guru dihadapkan pada kenyataan sosial yang memiriskan hati siapa saja yang melihat.

Bagaimana tidak miris jika berbagai perilaku kejahatan moral, dari korupsi, kolusi, nepotisme, hingga suap-menyuap justru dipertontonkan oleh para punggawa negeri ini. Berita koran, situs-situs, dan tayangan televisi menjadi sangat transparan, bahkan cenderung vulgar dalam mengekspose perilaku korupsi dan suap-menyuap, dan hal ini sangat mudah ditangkap oleh peserta didik, bahkan anak-anak sekalipun.

Padahal guru harus memberikan contoh karakter terpuji, nilai-nilai luhur, jiwa kepahlawanan, dan sikap rela berkorban; sementara secara sosial terjadi paradoks: terpapar beberapa kenyataan yang sangat berlawanan? Bagaimana guru menafsirkan realitas sosial itu? Bagaimana guru akan mengajarkan nilai-nilai luhur perilaku terpuji jika para elite politik, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat justru menampilkan sikap dan perilaku sebaliknya?

Sangat sulit untuk tidak menggeneralisasi tafsir sosial atas kenyataan amburadul yang dipertontonkan para elite. Peserta didik bisa skeptik, mencibir, dan berujung pada sikap apatis. Andai guru "menyuruh peserta didik untuk tutup mata dan tutup telinga", yang penting tetap menyampaikan ajaran pendidikan karakter yang sudah terangkai dengan indah sekalipun, toh siswa dapat mengakses berita dari berbagai sumber yang sudah mengglobal.

Jangan lupa, angkatan muda kita, anak-anak kita adalah generasi produk milenium dan produk gadget yang canggih sehingga mereka dengan mudah memperoleh akses informasi apa pun.

Jika hal itu yang terjadi maka peserta didik juga bakal dihadapkan pada ambiguitas dalam menyerap nilai-nilai pendidikan karakter yang diajarkan.

Lalu Bagaimana?

Pertanyaan itu acap kali muncul tiap saya memberikan pelatihan tentang budaya multikultur, nilai-nilai karakter bangsa, dan pelatihan lainnya untuk para guru. Terus terang saya merasa bingung karena saya juga merupakan bagian dari produk keambiguitasan masyarakat.

Dalam kecenderungan kebuntuan semacam itu, sering saya harus membeberkan kenyataan dan harapan yang sangat berbeda, memotivasi guru agar tetap mengajarkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik, sering hanya bisa menyarankan "marilah melakukan sesuatu yang besar dimulai dari hal kecil", sering hanya bisa menyarankan "mulailah dari diri sendiri, dan sekarang juga".

Kemampatan dan kebuntuan jalan bagaimana sebaiknya memengertikan pendidikan karakter kepada anak didik akhirnya hanya melahirkan ajakan dan motivasi kepada pendidik agar tetap bersemangat dan memberikan keteladanan utama. Karenanya saya yakin, dengan keteladanan perilaku luhur, tindakan yang luhur dan terpuji, generasi muda kita akan dengan gembira menyerap nilai-nilai luhur dalam pendidikan karakter. Dengan keteladanan akhirnya mereka merasa "butuh" berperilaku terpuji, bukan sekadar "harus" berperilaku terpuji.

Oleh  : Tri Marhaeni PA ( Guru besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Unnes)

 

Write Comment (2 comments)
<< Start < Previous 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Results 181 - 189 of 639
LAYANAN CHATTING